Kamis, 04 November 2010

PEMBUNUHAN TIDAK DISENGAJA

Polisi Anggap Kasus Salah Tembak Mahasiswa Karena Salah Paham

Rabu, 05 Mei 2010 | 21:15 WIB


TEMPO Interaktif, Pamekasan - Kepala Polres Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, Ajun Komisaris Besar Mas Guanrso mengungkapkan bahwa kasus penembakan salah sasaran yang dilakukan anggota nyaterhadap Miftahudin mahasiswa Universitas Madura murni karena salah paham.

Menurut dia, korban mengira polisi yang menghadangnya perampok. Sebaliknya, kata dia, polisi mengira bahwa Miftah dan dua rekannya adalah pencuri kabel telepon yang sudah lama menjadi target operasi. "Murni karena salah paham," katanya, Rabu (5/5).

Untuk memperkuat alibinya, Kapolres Mas Gunarso menjelaskan lokasi penambakan di Jalan Raya Konang, Kecamatan Galis memang masuk daerah "zona merah". Di jalan itu, kata dia, kerap terjadi aksi pencurian kabel telephone. Polisi mencatat sudah ada 20 kasus pencurian kabel namun tak satu pun tersangka berhasil diringkus.

Bahkan, lanjut Gunarso, saat korban Miftah dan dua rekannya melintas ada tanda alarm berbunyi yang dijadikan penanda adanya pencurian kabel telepon. Alarm itulah yang kemudian mengomando polisi untuk mengejar Miftah dan menghadang korban dan memberi tembakan peringatan. "Tapi korban tidak mengindahkan karena mengira polisi adalah perampok, sehingga polisi berniat menembak ban sepeda korban tapi entah ternyata mengenai pantatnya," tutur Gunarso.

Sementara itu, Forum Lembaga Swadaya Masyarakat se Pamekasan hari ini mendatangi kantor Polres setempat. Mereka mendesak polisi segera merehabilitasi nama Miftahudin yang menjadi korban salah tembak. "Rehabilitasi penting agar korban tidak diidentikkan dengan pencuri kabel telepone, sehingga merusak nama baik korban," kata Koordinator Forum LSM Heru Budi.

Sebab, kata dia, Miftah yang kini berstatus mahasiswa fakultas elektro Universitas Madura dan sedang menyelesaikan skripsi masih punya masa depan yang panjang. Jika tidak direhabilitasi dikhawatirkan menimbulkan imej negatif di masyarakat. "Polisi juga harus memberi sanksi tegas kepada anggota pelaku penembakan," tegasnya.

Seperti diberitakan, kasus salah tembak tersebut terjadi pada senin malam lalu. Saat itu korban yang baru pulang dari warung internet memutuskan pulang ke rumahnya di Kecamatan Galis untuk mengambil bahan skripsi untuk dikonsultasikan dengan dosen pembimbing.

Namun saat perjalanannya sampai di jalan raya Konang, tiba-tiba Miftah dan dua rekannya dicegat orang tak dikenal dan dikira perampok. Mereka kemudian banting setir berbelok arah untuk meloloskan diri. Laju sepeda motor ketiganya semakin kencang saat terdengar suara tembakan. "Saya baru sadar kena tembak karena banyak kucuran darah dari pantat saya," ujar Miftah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar